Kamis, 10 April 2014

Terima Kasih, Tuhan.

Indriasih Karesa, nama pemberian orangtua. Menurut kamus arti nama, kata "Indriasih" berarti dewi yang cantik, sedangkan  "karesa" belum pernah menemukan artinya apa meskipun sudah sering berselancar berbagai kamus dan mbah google.hihi...


Tak terasa, waktu menggiringmu melewati hidup sudah hampir seperempat abad lebih. Wow... Makin dewasa (red:tua). hiks... Banyak peristiwa yang Tuhan berikan selama ini. Yang mengajarkan banyak ilmu menjadi lebih baik.

Tuhan, aku hanya dapat bersyukur Kau masih memberiku waktu menjadi lebih baik dan membahagiakan orang-orang sekitarku, terutama orang-orang yang menyayangiku. Izinkan aku untuk membahagiakan mereka secepatnya.

Tuhan, maafkan aku telah melakukan banyak kesalahan dan kelalaian. Aku masih saja bandel dan nakal akan aturanMu. Aku masih saja "melawan" kehendakMu. Aku masih saja "membantah" perintahMu. Namun, Kau masih tetap menyayangiku, bahkan selalu ada untukku. Apalagi disaat  aku "terjatuh" karena pola tingkahku yang ceroboh. Iya, karena aku tanpa sadar "menjauh" darimu. Maafkan aku, Tuhan.

Tuhan, terimakasih untuk semuanya. Aku tahu Kau akan memberikan yang terbaik untukku, meskipun terkadang aku belum cerdas membaca firmanMu disekelilingku. Aku yakin Kau akan mengabulkan semua permintaanku, meskipun orang-orang sekitarku mencemooh bahkan menghina tentang impianku. Bagi mereka mustahil terwujud, tapi aku yakin dapat terwujud jika Kau sudah menghendaki dan Kau yang mengatur semua cara untuk dapat mewujudkan impianku. Aku sangat yakin Kau akan menggiringku mewujudkan impianku, Tuhan.


Tuhan, bolehkah aku meminta sesuatu yang special di hari lahirku, 10 April 2014? Aku yakin Kau menjawab "Boleh, Indri". Aku ingin meminta berikanlah rasa takut padaMu agar aku terhindar dari segala hal yang menjauhkanku padaMu. Aku ingin selalu dekat denganMu dan rasulMu. Bantu aku mewujudkan secepatnya membahagiakan Papa, Mama, Aa, dan Opi baik materi maupun inmateri yang berkah dan banyak. Pertemukan dan satukan menjadi halal, aku dengan seseorang yang Kau ridhoi menjadikan imam untukku, yang menghantarkanku makin dekat denganMu, kedua orangtua, dan saudara kita masingmasing, serta yang mempunyai pemikiran yang sama untuk dapat bermanfaat seluaslusanya untuk orang lain, baik dengan materi maupun inmateri hanya untuk mendapatkan ridhoMu. Tidak perlu cakap, namun yang dapat menyejukan hatiku. Aku berharap Kau ridho untuk menggelarkannya pada selambatlambatnya akhir tahun 2014. Pertemukan aku dengan para sahabatkku, tetehku dan para abangku, berikanlah mereka kebahagian dan kesehatan. Aku ingin bersilaturahmi dengan mereka, Tuhan. Tolong bantu aku agar mudah menemui mereka dan tetap sambung hati dengan mereka karenaMu. Aku merindukan mereka, Tuhan. Bantu aku untuk terus berkarya di bidang penulisan dan kenotariatan, Tuhan. Aku yakin Kau akan mengabulkan semua permintaanku. Bantu aku untuk mewujudkannya, Tuhan. Tolong kirimkan para malaikatMu dan "utusanMu" untuk menggiringku mewujudkan impianku tersebut.


Tuhan, terimakasih untuk semuanya. Semua atas nikmatMu yang tak terhingga.Terimakasih sudah mengirimkan para malaikat dan utusanmu yang telah menyayangiku, bahkan selalu mendoakanku dalam diam. Terimakasih Tuhan masih memberikan kesempatan atas nikmat usia. 

Terima kasih untuk diriku sendiri yang selalu berusaha menjadi baik hanya untukNya dan kedua orangtua. Aku tahu kamu berusaha keras untuk berespon benar atas setiap sikap orang yang menghina, memaki, mencemoohmu. Aku bangga kamu masih bersikap baik dengan orang-orang tersebut, meskipun aku tahu kamu masih meneteskan airmata karena perlakuan mereka. Kamu masih tetap tersenyum. Terimakasih kamu berusaha untuk tetap tersenyum dan berespon baik atas ketentuan Tuhan. Aku yakin Tuhan akan memberikan kebahagian yang tak terhingga kelak. Bersabarlah. Aku bangga padamu, Indriasih Karesa. Love u so much, honey.



Jiwa, 10 April 2014



Kado Terindah Di Hari Lahir-ku

Terimakasih Peri Unguku atas kado terindah di hari lahiku. Aku bahagia. Aku masih ingat janji kita untuk bertemu dan meluapkan rasa rindu. Maafkan aku masih cemburu, padahal aku tahu kau masih mencintaiku. Kita tetap saling mencinta dalam diam. Diam untuk mencintaimu. Aku sayang padamu, peri unguku. Arista Devi



Pada Hari Kelahiran
: Neng Echa

telah kau baca
sepasang sajak berjarak di stasiun kereta
yang sengaja kutuliskan hanya untukmu
agar kita yang sama-sama merindu
kelak bisa menuai janji temu di kota Jakarta
sementara saat menunggu
kita tetap bisa menikmati perjalanan tanpa kehabisan bekal harapan

jangan kau gantung mendung di wajahmu, Neng
jika karena tiada sapaku, kau mengira aku lupa pada harimu
hari dimana pertama kalinya kau menyapa dunia
aku sengaja mengamini doa-doa untukmu yang tak pernah habis dipanjatkan
diam-diam, dalam diam
kau sendiri yang mengatakan padaku, Neng
kau ingin dicintai dalam diam
sebab kau takut dan tak ingin tenggelam dalam lautan kemanjaan
yang di dasarnya penuh dengan karang kecemburuan

ah apa pun inginmu, Neng
mulai hari ini, awali perjalanan barumu
kau bisa pilih naik kereta atau berlari layaknya kaki-kaki rusa
kejar dan carilah ia selagi kau bisa
ini harimu, Neng
seperti yang pernah kau katakan
Tuhan akan mengabulkan doa-doa kebaikan
tanpa perlu keraguan, tanpa perlu diragukan

Ruh, 10 April 2014

Senin, 07 April 2014

Kau Datang Untuk Apa?

Tuhan mengutus seseorang mempunyai misi dan visi. Utusan Tuhan memberikan kita latihan untuk mempersiapkan kehidupan saat ini atau masa depan. Kita dipertemukan dengan "utusan" Tuhan yang berbagai karakter. Ada yang super baik hingga super menjengkelkan. 

Kita dilatih dengan keberadaan mereka. Terutama melatih kesabaran. Kesabaran menerima ketentuan Tuhan. Kita berlatih untuk pandai mengelolah pikiran atas keberadaan mereka. Mereka hadir dapat menjadi penyelamat bahkan penghancur kehidupan. Hati-hatilah atas keberadaan mereka!

Sayangnya, kita belum mampu mempertajam radar kita untuk membaca kehadiran mereka. Kita baru menyadari visi dan misi mereka ketika kita sudah tenggelam atas kehadiran mereka. Dan hanya waktu yang dapat menjawab visi dan misi keberadaan mereka. Kita berusaha untuk meminimalisir efek penghancur atas kehadirannya. Sebaliknya, mereka sebagai penyelamat dan pembangkit kita menjadi lebih baik dihadapan Tuhan dan makhluknya. Yuk, kita harus tetap waspada dalam pengambilan "hikmah" di setiap kehadiran seseorang dan peristiwa.
 


April 2014.

Minggu, 06 April 2014

Lumpuhkan Ingatanku

Ada rasa yang aneh tadi malam. Aku bertemu dengan dia kembali. Kita bertemu dalam mimpi. Kau sangat lesu bahkan kumuh. Apakah yang sedang kau alami?

Aku ingin segera menghubungimu. Otakku tak mampu mengingat nomormu. Nomormu sudah terhapus lama dalam kontak handphoneku. Aku tidak berhenti sampai disitu. Aku masih tetap mencari nomormu, mungkin masih tersimpan dicatatanku. Alhasil, aku tak menemukanmu. Ada kegelisahan, segera ingin menghubungimu. 

Akhirnya, aku memutuskan untuk tak melanjutkannya. Aku harus melupakan pertemuan kita. Sudahlah. Kita memang sudah ditakdirkan berpisah. Bahkan Tuhan sudah tak mengizinkanku untuk mengingat nomormu, padahal dulu aku dapat mengingat nomormu yang banyak. Kini, Tuhan telah lumpuhkan ingatanku.


Aku hanya berharap kau dalam keadaan baik-baik dan makin bahagia dengan pilihanmu. Pilihanmu bersama wanita lain. Pagelaranmu sebentar lagi akan berkumandang. Selamat! Semoga pagelaranmu sukses.



April 2014

Jumat, 04 April 2014

Tentang Kamu


Raut wajahmu sudah menunjukan bahwa kau marah. Namun kau hanya diam dan berkata "Tidak marah". Bahkan kau mencari titik pandang menolak tatapanku. Aku hanya ingin kau ungkapkan bahwa kau marah padaku.

Aku bersikap keras bahkan kasar, selain mengungkapkan rasa kekesalanku atas sikapmu, sisi lain aku ingin melihatmu marah. Aku menunggu moment ketika kau berani mengutarakan marahmu. Aku tahu kau sangat susah mengungkapkan marahmu. Marahmu hanya diam, diam, diam, dan didukung bahasa tubuhmu yang tak ingin bersama. Aku tahu itu.

Kali ini, aku ingin membantumu agar kau dapat meluapkan rasa marahmu. Kau hanya diam, diam, diam, dan hanya mengeluarkan sedikit kata. Bahasa tubuhmu sudah ingin segera pergi dariku. Disaat aku terus menanyakanmu "Silakan marah! Ungkapkan! Manusia wajar untuk marah". Tetap saja. Kau mendiam.

Dan akhirnya, kau memutuskan untuk meninggalkanku. Alasanmu, saya masih ada rapat. Aku tahu itu hanya alasanmu agar tak "tertekan" pertanyaanku. Aku juga tahu bahwa kau ada jadwal selanjutnya, dan bukan ada rapat. Raut wajahmu dan bahasa tubuhmu tidak dapat dibohongi. Kau mulai kebingungan bersikap menghadapiku.

Marahmu masih tetap berlanjut, saat kita bertemu kembali. Iya, bertemu setelah kau memutuskan untuk break. Raut wajahmu masih tersimpan kemarahan dan kekesalan terhadapku. Aku menyadari sikapku telah membuatmu tidak nyaman. Aku bersikap mempunyai sebab dan ingin mengingatkanmu agar menjadi lebih baik, terutama dapat menghargai orang. Aku sadari caraku yang terakhir salah. Aku sudah berusaha menggunakan cara terhalusku, lamalama sedikit frontal. Alhasil, sikapku menumbuhkan kemarahanmu.

Kemarahanmu masih tersimpan rapi. Sikapmu berubah total. Aku paham tentang kemarahanmu. Aku juga akan bersikap sama, jika dihadapkan pada posisimu. Aku telah menawarkan berkalikali agar kita dapat duduk bareng dan menemukan solusi terbaik untuk masingmasing. Apa reaksimu? Hanya diam. Tidak ada respon. Hadeuhh... Hobbymu, terdiam, diam, dan mendiam.

Kau, sosok yang unik bin aneh. Tuhan mengirimkanmu dalam kehidupanku, pasti mempunyai visi dan misi. Entah tentang apa, aku belum menemukan. Terimakasih kau melatihku kembali untuk bersabar, bahkan menahan emosiku, meskipun ujungujungnya aku meledakledak. Terimakasih kau tetap sabar menghadapiku, terutama kebawelanku. Dan kau hanya membalas dengan senyuman. Cerita indah tentang kita. Terima kasih telah membuat cerita dalam kehidupanku.


April 2014

Cukup!

"Kamu sehat?", pesan singkatmu.
"Alhamdulillah sehat. Kamu?"
"Iya".

Tibatiba kau hadir kembali dalam hidupku, setelah sekian lama kau hilang. Sejak kau putuskan untuk mengakhiri impian kita bersama dan memilih pilihan orangtuamu. Kita menutup semua akses, termasuk dengan keluarga dan rekanrekanmu.


Setiap kehadiranmu, masih tersimpan sisa luka. Tapi tak ingin merasakan sisa luka yang mulai mengering. Kau tetaplah bersama wanitamu. Cukup. Aku hanya ingin hidup dengan duniaku. Tanpa campur tangan dirimu. Aku hanya ingin hidup dengan impianku, tanpa cam;uran impianmu. Cukup.


April 2014


Selasa, 01 April 2014

Hadiah Peri Unguku


Sepasang Sajak Berjarak di Stasiun Kereta : Neng Echa

1/ 
Di Stasiun Tawang itu ia termangu, menunggu Kereta Fajar Utama Pada empat puluh menit yang tertunda, ia sibuk mengeja makna perjalanan hidupnya Orang-orang datang dan berlalu, dan ia hanya bisa menunggu Beberapa orang dilihatnya berpelukan, entah merayakan perpisahan atau memeluk harapan pertemuan Ia terpekur, serasa mengukur kedalaman hatinya sendiri Sejak kapan beribu kenangan itu berenang di telaga rasanya, dan kenapa ia tak pernah benar-benar bisa mengusirnya Cinta memang tak pernah bersalah, tapi rindu sering kali menjadi sembilu Ia tatap rel yang memanjang, matanya tak sanggup menangkap bayang di ujung jalan : bilakah kereta-kereta itu akan berakhir di stasiun terakhir ataukah mesti berhenti di tengah perjalanan? Ketika peluit dan decit roda besi berderit, suara batinnya menjeritkan peringatan : Jangan terlalu dipikirkan tentang kereta itu, kamu hanyalah penumpang! Ia menghembuskan napas lega, berusaha menjeda sisa rasa sakit di hulu hatinya


2/ 
Andai aku ada bersamamu, akan kuajak kau berbincang tentang kisah perjalananku Di antara orang-orang asing itu, tertinggal keping-keping kenangan asingku Tentang sepenggal perjalanan, yang berpangkal madu tapi berujung racun Denting piano yang melagukan Gambang Semarang, menyambut kedatangan menghantar kepergian Serupa harapanku padamu yang kerap kukirim melalui doaku, agar kau selalu bisa melagukan tembang itu dengan senyummu Sepasang rel itu seperti harapan dan doa, yang selalu menjadi tempat berpijak roda kehidupan kita Dan balok-balok bantalan itu serupa usaha kita, agar bertahan seberat apa pun harus menahan beban Ketika bertemu persimpangan di ujung jalan, kita harus berani menentukan pilihan Sekali lagi, Neng kita hanyalah penumpang yang tak akan melewatkan detik saat berdampingan dengan berbincang Tak usah peduli pada kereta yang dijalankan masinisnya, biarkan saja melaju bersama waktu Seperti aku dan kamu yang melaju bersama harapan, tak henti belajar menjadi masinis bagi kereta cita dan cinta kita Aku bukan sesiapamu, pun kamu bukan sesiapaku Tapi dari keterasingan dalam bising di Stasiun Tawang itu Kita sama-sama tahu, bahwa aku ada untukmu dan kau ada untukku

Bauhinia Land 2014